Kebanyak orang merasa mereka tidak mampu mencapai sesuatu hanya karena mereka sangat meyakini keterbatasan sumber daya, yang seharusnya keterbatasan itu belum tervisualkan. Kebanyakan dari mereka juga merasa percaya bahwa mereka tidak memiliki kemampuan, keahlian khusus, mental, “keberuntungan”, kreativitas, modal, kekuatan finansial, bakat dan lain sebagainya.
Sadar atau tidak, diakui atau tidak, suka atau tidak, kalimat-kalimat seperti ini seringkali melintas di pikiran kita bahkan tanpa kita sadari, rencanakan bahkan kita inginkan sekalipun. “kalau saja saya punya modal yang cukup, maka saya dapat membuka usaha”, “kalau saja orang tua saya baik, pintar dan kaya pasti saya pasti bisa menjadi orang sukses”, “Jika saya memiliki waktu yang lebih banyak, maka saya dapat menimba ilmu dan meningkatkan taraf hidup saya”.
Tapi, kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka kekurangan uang sebagai penyebab nomor satu sehingga mereka kehilangan kesempatan dan waktu dalam bertindak. Anda harus mengakui bahwa bisnis besar seperti Honda, Sony Corp dan Apple, mereka memulai usaha dari nol, bahkan hanya dengan modal dengkul.
Anda mungkin saja dapat berkilah, mereka khan cerdas, mereka khan tinggal di negara maju, mereka khan memiliki koneksi dan fasilitas, dan lain sebagainya. Mungkin kita bisa membayangkan bahwa mereka memulai ketika negara Jepang dan Amerika dengan kondisi di tahun 1990-an. Lalu, apakah seberapa jauh berbeda negara kita saat ini dengan negara Jepang dan Amerika ketika itu, ketika Soichiro Honda memulai bisnis Honda dengan membuka sebuah bengkel sepeda, ketika Steve Jobs memulai Apple-nya dari garasi rumahnya, ketika Bill Gates memulai microsoftnya dari rumahnya dan lain sebagainya.
Allah menciptakan manusia dengan “hardware” dan kondisi yang sama, memiliki organ tubuh yang sama, memilii sistem syaraf dan susunan neurologi yang sama. Kita memiliki 1000 miliar sel saraf di dalam otak kita, dimana setiap sel mampu memproses informasi dengan kecepatan lebih cepat daripada komputer keluaran terbaru sekalipun. Jika anda menemukan perbedaan, seperti warna kulit, warna bola mata, warna rambut, ukuran tubuh dan lain sebagainya, maka itu adalah rahmat Allah agar manusia saling mengenal satu sama lain untuk kemudian saling melengkapi.
Lalu, sebenarnya apa yang membuat kita terkungkung dalam keterbatasan dan kesuksesan diri kita sendiri, jawaban itu ada dalam diri kita sendiri. Adam Khoo dalam bukunya Master Mind Design Your Destiny mengungkapkan bahwa hubungan neuron adalah kunci pola pikiran dan perilaku kita. Selanjutnya ia menjelaskan, jika semua orang memiliki sumber daya internal yang kuat, mengapa hanya beberapa orang yang dapat memperoleh hasil luar biasa? Mengapa hanya segelintir orang di dalam setiap masyarakat yang mampu membangkitkan ide-ide cemerlang, tetap fokus dan termotivasi, bertindak dengan konsisten dan membuahkan hasil dengan tingkat kesuksesan yang kita hanya dapat mengaguminya? Perbedaannya terletak pada cara kita menggunakan otak kita.
Pikiran, perilaku, kemampuan dan keahlian anda tidak ditentukan oleh jumlah sel otak yang anda miliki, tetapi lebih pada bagaimana neuron-neuron anda saling berhubungan. Kita semua memiliki hubungan neuron yang berbeda, dan itulah sebabnya mengapa kita berbeda dalam berpikir dan berperilaku. (… bersambung)